SuaraDuniaNusantara.net – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen (yoy), menjadi yang tertinggi sejak pandemi COVID-19. Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan capaian ini dalam konteks yang lebih luas: kinerja ekonomi nasional pada akhir 2025 relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara sejawat. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen (ctc), menunjukkan daya tahan di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 0,86 persen. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat Rp13.580,5 triliun, sementara atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun. Angka-angka ini menggambarkan skala ekonomi yang tetap ekspansif di tengah tekanan eksternal.
Posisi Indonesia di Antara Negara Sejawat
Berdasarkan laporan BPS, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 dinilai relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara sejawat. Di saat sebagian negara masih menghadapi perlambatan akibat pengetatan moneter global dan pelemahan permintaan, Indonesia mencatat akselerasi di akhir tahun.
Yang patut dicatat, struktur pertumbuhan Indonesia ditopang oleh sektor-sektor domestik yang kuat. Industri pengolahan tumbuh 5,40 persen, sektor perdagangan dan pertanian juga mencatat pertumbuhan yang relatif tinggi. Secara agregat, sektor-sektor tersebut merepresentasikan lebih dari 40 persen perekonomian nasional.
Sektor Riil dan Stabilitas Domestik
Dalam konteks global, kekuatan sektor riil menjadi pembeda utama. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,68 persen. Artinya, perekonomian Indonesia tidak semata bergantung pada ekspor, tetapi memiliki penopang domestik yang stabil.
“Konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
Dampak Global dan Pergerakan Tenaga Kerja
Lebih jauh, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 juga dikaitkan dengan penciptaan lapangan kerja. BPS mencatat sekitar 1,3 juta lapangan pekerjaan tercipta pada periode tersebut. Indikator kesejahteraan, seperti rasio ketimpangan (gini ratio), juga menunjukkan perbaikan.
Dalam sudut pandang diaspora, capaian ini memperkuat persepsi Indonesia sebagai ekonomi yang tetap bergerak di tengah ketidakpastian global. Stabilitas konsumsi, pertumbuhan sektor industri, serta distribusi anggaran yang berjalan relatif baik menjadi sinyal positif bagi keterhubungan ekonomi lintas negara.
Menjaga Momentum di Tengah Dinamika Global

Memasuki awal 2026, pemerintah mendorong berbagai stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penguatan belanja fiskal berperan dalam menjaga konsumsi dan sektor riil.
“Konsumsi terdorong, sektor riil baik, tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mencerminkan posisi yang relatif solid di antara negara sejawat. Angka pertumbuhan bukan hanya indikator domestik, tetapi juga cerminan daya saing Indonesia dalam lanskap ekonomi global.
